Food & Nutrition

Apakah Benar Vaksin Bisa Menyebabkan Autisme?

2020-12-24
Setelah hampir setahun hidup berdampingan dengan pandemi COVID-19, berita mengenai vaksin yang sudah siap pakai untuk melindungi kita dari virus ini tentu merupakan kabar yang menggembirakan bagi banyak orang.

Namun kenyataannya ada sebagian orang yang menolak menerima vaksin karena mereka percaya vaksin dapat menyebabkan banyak efek negatif, termasuk menyebabkan autisme pada anak-anak. Walaupun tidak banyak orang yang menolak, namun tren ini semakin meningkat. Sebenarnya apakah ada data atau argumen valid yang menyebabkan mereka percaya kalau vaksin itu buruk bagi mereka?

Polemik ini sebetulnya sudah ada jauh sebelum pandemi ini terjadi. Penelitian yang menyebutkan bahwa vaksin bisa menyebabkan autisme dimulai di tahun 1990-an saat para peneliti dari Inggris menemukan vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) dapat menyebabkan masalah pada perut seseorang. Setelah itu ahli internis (gastroenterologist) dari Inggris yang bernama Andrew Wakefield meneliti lebih jauh temuan ini. Hasil temuannya mengindikasikan bahwa infeksi yang disebabkan oleh virus yang dijinakkan dari vaksin MMR dapat menyebabkan gangguan pada lapisan usus. Hal ini bisa menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan serta penyakit di perkembangan otak (neuropsychiatric) atau lebih spesifik yaitu autisme.

Lalu di tahun 1998, Wakefield bersama 12 peneliti lainnya menemukan virus campak (measles) pada sistem pencernaan anak yang menunjukkan ciri-ciri autisme setelah diberikan vaksin MMR. Hanya saja mereka tidak bisa menemukan hubungan langsung antara anak-anak yang menerima vaksin MMR dengan timbulnya ciri-ciri autisme. Selain itu Wakefield mengatakan risiko timbulnya autisme yang disebabkan oleh vaksin hanya bisa muncul jika diberikan vaksin kombinasi MMR. Menurut Wakefield jika hanya diberikan satu vaksin ini saja, sebagai contoh untuk mencegah campak seseorang diberikan vaksin khusus campak, maka risiko autisme tidak akan timbul.

Dua belas tahun setelah klaim Wakefield tentang hubungan vaksin kombinasi dengan timbulnya autisme, para peneliti melakukan riset yang lebih mendalam mengenai hal ini yang hasilnya adalah mereka menemukan tidak adanya bukti yang mendukung klaim temuan Wakefield. Sehingga di tahun 2010, Wakefield dilarang untuk praktik sebagai dokter di Inggris. Dasar larangan ini adalah Wakefield ditengarai melakukan penipuan serta memalsukan penelitiannya saat ia mengklaim anak-anak yang diberikan vaksin akan menunjukkan ciri-ciri autisme, sementara pada kenyataannya adalah tidak ada. Ditambah lagi fakta bahwa setahun sebelum temuannya yaitu di tahun 1997, Wakefield mendaftarkan paten atas vaksin satu tipe (single vaccine) yang mana jika vaksin MMR dilarang maka Wakefield pasti mendapatkan banyak keuntungan dari paten ini.

Selain klaim Wakefield tersebut, sempat timbul isu bahwa merkuri yang berada di dalam vaksin juga dapat menyebabkan autism. Hal ini pun juga sudah dipatahkan oleh Institute Medicine di tahun 2004. Hal ini terbukti ketika merkuri dihilangkan dari vaksin, kasus autisme tidak menurun namun justru malah meningkat secara signifikan.

Khusus mengenai vaksin COVID-19 ini, jika merasa ragu atau takut kalau ia dapat mengganggu kesehatan kita, akan lebih baik kita berkonsultasi dengan dokter yang ahli dan terpercaya untuk mengetahui apa saja risiko dan keuntungannya. Jangan mudah percaya terhadap informasi dan data yang tidak valid, apalagi berita dari internet yang sumbernya tidak dapat kita percayai.

0 COMMENTS