Psychology

Dampak Stres Pada Kehidupan Sosial Anda

2016-10-08
Dampak stress pada kehidupan sosial anda - “Stres itu dampaknya sangat besar. Tidak dapat berpikir jernih adalah salah satu gejala yang membuat orang stres semakin kacau”.

Setidaknya itulah yang menjadi pernyataan awal dari Indri Putri W. S.Psi, M.Psi, seorang psikiater yang saat ini bertugas di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya.

Menurut Indri, stres adalah hal yang wajar dialami oleh banyak orang, khususnya para pekerja. Beban pekerjaan yang luar biasa besar serta tekanan dari berbagai pihak membuat seseorang menjadi semakin merasa stres.

“Akibatnya bermacam-macam, mulai dari akibat fisik sampai emosional”, ujar Indri.

Indri sendiri sering menemukan klien yang mengalami masalah stres yang berkepanjangan. Salah satu kliennya, sebut saja Dodi, mengeluh tidak dapat tidur selama beberapa hari.

“Tiga minggu sebelum datang ke saya, dia (Dodi) baru saja dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, penghasilan dari perusahaan itu rencananya buat modal nikah,”

Hasilnya, Dodi pun stres dan mengalami kekacauan hati.

“Galau kata anak zaman sekarang,”

Hubungan Dodi pun tak menentu. Stres mengakibatkan dirinya tidak dapat berpikir dengan jernih. Hal ini menyebabkan Dodi sering bertengkar dengan tunangannya dan berimbas pada kondisi insomnia yang dideritanya.

Gejala stres sebenarnya sangat mudah dikenali. Seseorang dengan stres biasanya lambat dalam berpikir. Tidak bisa tidur pulas adalah salah satu gejala yang kemungkinan besar timbul. Dia sering merasa bingung, bahkan selalu berperilaku dan berpikir secara negatif. Perasaan cemas dan gelisah selalu dirasakan setiap saat. Orang dengan tingkat stres yang tinggi bahkan kesulitan dalam berpikir dalam logika berurutan. Ujung-ujungnya, perasaan ini membuat seseorang tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Indri menjelaskan, kondisi stres sangat berdampak pada kehidupan sosial seseorang. Menurutnya, stres mampu mengubah orang menjadi lebih pendiam. “Yang semula orangnya periang, tiba-tiba jadi pendiam dan banyak berpikir. Mau diajak ngobrol pun, orang yang ngajak ngobrol juga nggak nyaman”. Tentu saja hal ini menyebabkan hubungan pertemanan di antara keduanya akan semakin renggang.

Yang kedua, stres juga mampu menyebabkan orang menjadi kurang fokus. “Sekarang begini, ketika ada orang yang diajak ngobrol, terus nggak fokus. Pasti terjadi salah komunikasi, kan? Wajar kalau misalnya bos marah-marah karena pekerjaan tidak bisa selesai tepat waktu”

Ketiga, dan menurut Indri ini yang paling berbahaya, adalah berkurangnya kontak dengan keluarga dan teman dekat. “Orang yang memiliki gejala stres tidak akan mau berkumpul dengan keluarga atau teman dekatnya. Diam saja di kamar. Mengunci diri. Kalau nggak ada yang mengawasi, bisa-bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Paling parah ya make (menggunakan narkoba) atau bunuh diri”.

Menurut Indri, ada baiknya bila seseorang yang stres langsung berkonsultasi dengan psikiater atau minimal berbicara dengan teman dekat dan keluarga. Hal ini akan meringankan tekanan yang ada di dalam jiwa sehingga pikiran tidak kalut dan memikirkan hal lain.

Selain itu, peran orang sekitar juga penting. Menjadi peka dalam setiap perubahan sikap yang terjadi pada orang terdekatnya akan membantu orang tersebut memecahkan masalah.
“Kalau bisa, tawarkan solusi. Jangan malah dimarahi. Dengarkan dia cerita apa, lalu temukan solusi yang bagus. Fokus terhadap solusi, bukan masalah” tambahnya.

0 COMMENTS