Mom & Kids

Edukasi seks pada anak usia dini

2020-05-13
Sebagai orangtua topik mengenai seks merupakan hal yang cukup berat.

Terlebih di Indonesia menjadi hal yang tabu sehingga seringkali berakhir dengan situasi canggung atau pesan yang ingin disampaikan tidak tersampaikan dengan jelas. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Menurut Deborah Roffman, seorang pakar seks remaja, mengatakan masalah ini terjadi karena sejak kurang lebih 100 tahun yang lalu kita membuat seks menjadi sesuatu yang tabu sehingga dianggap tidak boleh dibicarakan terutama pada anak-anak. Di era yang begitu mudah mencari informasi seperti sekarang, Deborah Rottman pun mengatakan anak-anak telah terekspos berbagai macam subjek seksual sehingga melihat seks berbeda dengan keintiman.

Saat ini anak-anak cenderung melihat seks sebagai suatu hal yang terlarang dan tidak ada hubungannya dengan keintiman atau cinta. Gabungan kedua faktor inilah yang membuat pembicaraan tentang seks antara orangtua dengan anaknya menjadi sangat sulit. Sedangkan pembicaraan ini penting karena jika seorang anak tumbuh dengan keterbukaan dalam membahas seksualitas biasanya anak tersebut akan tumbuh lebih bahagia, sehat, menjauhkan diri dari aktivitas yang riskan termasuk berhubungan seks di masa remaja dan berhubungan seks tanpa pelindung.

Menurut survey, di tahun 2011 resiko anak SMA berhubungan seksual berada pada tingkat 47% yang turun dari 54% di tahun 1997. Hal ini menunjukkan bahwa seks usia dini sangatlah diperlukan. Lalu bagaimana cara terbaik agar anak tidak ragu bertanya atau berdiskusi sehingga pesan yang disampaikan orangtua akan diserap baik oleh anak?

Langkah pertama adalah dengan melakukan pembicaraan mengenai seks tidak hanya dalam satu kali melainkan pembicaraan beribu kali sepanjang hidup anak. Langkah kedua adalah pembicaraan seks tidak perlu menunggu sampai anak tersebut mencapai umur remaja, sebaiknya orangtua sudah mulai memperkenalkan masalah seks kepada anak sejak usia dini seperti yang hal paling mendasar mengenalkan gender perempuan dan laki-laki.

Biasanya seorang anak mulai bertanya mengenai seks pada saaat melihat ibu atau kerabat mereka yang mengandung. Pertanyaan yang dilontarkan biasanya mencakup seperti bagaimana caranya bayi dapat berada di kandungan atau bagaimana cara bayi keluar dari perut. Inilah situasi yang tepat untuk mulai menjelaskan tentang seks kepada anak-anak. Langkah selanjutnya yang perlu diambil orangtua adalah jangan menggunakan nama samaran (pet names) untuk menjelaskan alat kelamin, biasanya orangtua akan menggunakan nama seperti “burung” atau “anu” untuk menjelaskan alat kelamin laki-laki dan “memem” atau “nenen” untuk menjelaskan alat kelamin wanita. Gunakan nama sebenarnya untuk menjelaskan alat kelamin agar lebih memudahkan proses pembicaraan seks nantinya.

Langkah terakhir dan yang paling penting adalah sebagai orangtua harus membuka diri untuk pertanyaan apa saja yang ingin ditanyakan oleh anak mengenai seks. Hal ini diperlukan agar mereka nyaman untuk selalu bertanya kepada orangtua, bukan bertanya kepada teman atau orang lain yang mungkin tidak tepat untuk menjelaskan masalah seks kepada mereka. Dengan begini diharapkan anak-anak dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang mungkin membahayakan atau merugikan mereka dalam hal seks.

0 COMMENTS