Food & Nutrition

Siapa Bilang Mie Instan Tak Bisa Bergizi?

2016-10-08
Siapa bilang mie instan tak bisa bergizi - Selama ini, mi instan kerap dianggap sebagai makanan yang kurang menyehatkan.

Banyak rumor beredar bahwa mi instan dapat memincu terjadinya kanker akibat kandungan karsinogen yang muncul ketika dipanaskan di atas suhu 120 derajat celcius. Terlebih, istilah instan juga kerap dikaitkan dengan nilai yang cenderung negatif.

 

Pada nyatanya, anggapan dan rumor tersebut sama sekali tidak benar. Demikian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Aditya Indra Wijaya, seorang ahli pangan dan dokter gizi di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya.

 

“Mi instan kering merupakan produk setengah matang. Disebut mi instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih, biasanya 100 derajat celcius, selama kurang dari lima menit. Jadi, suhunya bukan 120 derajat celcius, yang sebenarnya baru bisa dicapai apabila menggunakan pressure cooker atau retort untuk sterilisasi dalam proses pengalengan pangan,” terang Prof. Dr. Aditya Indra Wijaya.

 

Anggapan lain yang tak kalah kencang beredar adalah penggunaan lilin agar mi instan bisa awet dan tidak lengket setelah dipanaskan. Lagi-lagi, beliau menjelaskan bahwa hal tersebut tidaklah benar.

 

“Produksi mi instan tidak pernah menggunakan lilin. Mi instan dapat awet dan tahan lama ketika disimpan karena proses pembuatannya melalui penggorengan (deep frying) sehingga kadar airnya menjadi sangat rendah, yakni hingga mencapai 5%. Proses tersebut tidak memungkinkan bakteri pembusuk untuk hidup dan berkembang biak. Karena proses deep frying yang menggunakan minyak goreng, tidak mengherankan apabila mi instan terlihat berminyak ketika dimasak.”

 

Terkait dengan kandungan penyedap (MSG) yang terkandung dalam bumbu mi instan, sebenarnya MSG tak lebih dari sekadar racikan air, sodium, dan glutamate. Glutamate alami banyak ditemukan pada bahan makanan hasil fermentasi seperti kecap, tauco, keju, tomat, susu, ikan, dan jamur.

 

Meski begitu, MSG tetap tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Prof. Dr. Aditya Indra Wijaya juga mengatakan bahwa sebaiknya bumbu dan minyak yang digunakan untuk memberi rasa sedap pada mi instan harus dikurangi agar asupan natrium pada tubuh tidak berlebihan.

 

“Boleh-boleh saja makan mi instan, asal ada syaratnya. Pertama, kurangi bumbu dan minyaknya untuk mengurangi asupan natrium dan lemak. Kedua, tambahkan dengan zat gizi lain sehingga ada kandungan komplit yang positif untuk tubuh. Sumber protein paling mudah ditambahkan di mi instan adalah telur, yang mengandung asam amino paling lengkap. Potongan sayur seperti sawi juga dapat menjadi tambahan gizi yang baik.” jelas beliau.

 

Pada dasarnya, tidak ada satu jenis makanan yang bisa memenuhi kebutuhan gizi untuk tubuh secara menyeluruh. Karenanya, setiap makanan yang dikonsumsi harus dilengkapi dengan kandungan lain. Mi instan sendiri sebenarnya telah memiliki kandungan protein, lemak, vitamin A, C, B1, B6, B12, niasin, folat, pantotenat, dan mineral besi. Beberapa produk mi instan bahkan memberikan sayuran seperti wortel meskipun jumlahnya tidak seberapa. Itulah mengapa sebaiknya konsumsi mi instan harus dibarengi dengan komponen lain agar menyehatkan.

 

Maka, dapat dikatakan bahwa hampir seluruh anggapan yang mengatakan bahwa mi instan merupakan makanan berbahaya tidak benar adanya. Bahkan mi instan yang disajikan dalam cup styrofoam pun aman dikonsumsi. Pasalnya, Styrofoam yang digunakan telah melewati standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jenis Styrofoam yang digunakan pun ditujukan khusus untuk makanan dan bisa menyerap panas. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari mi instan selama tingkat konsumsinya tidak berlebihan

0 COMMENTS