Psychology

Kenali Survival Guilt, Salah Satu Gangguan Mental

2021-12-17
Pernahkah Anda merasa bersalah, ketika Anda merasa beruntung saat terhindar dari bencana, sedangkan kerabat atau sahabat Anda mengalami bencana?

Jika Anda pernah merasa demikian, ini tandanya Anda tidak sendirian karena fenomena ini sudah banyak terjadi pada banyak orang & dikenal dengan nama Survival Guilt.

Survival guilt dapat terjadi ketika seseorang selamat atau terhindar dari suatu tragedi, sedangkan yang lainya tidak. Sebagai contoh, ketika terjadi kecelakaan kendaraan, terdapat sebagian besar penumpang yang tidak selamat sedangkan ada sebagian dari mereka yang selamat. Contoh lainnya, yakni ketika seorang tentara berhasil pulang dari peristiwa perang sedangkan sahabat seperjuangan mereka tidak dapat kembali pulang ke rumah atau tidak selamat. Tentunya hal ini akan menimbulkan rasa bersalah pada diri mereka & berkelanjutan menjadi kecenderungan depresi.

Disisi lainnya, orang yang selamat dari penyakit mematikan seperti kanker & AIDS juga dapat mengalami survival guilt pada seseorang, terutama jika mereka berjuang bersama sahabat mereka & hanya mereka saja yang selamat dari suatu tragedi.

Berikut  beberapa tanda-tanda yang patut diperhatikan untuk menentukkan apakah seseorang mengalami survival guilt atau tidak. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah apakah seseorang baru saja mengalami atau sedang mengalami suatu tragedi. Jika seseorang megalami rasa tidak berdaya menghadapi segala sesuatu dalam hidup, hal ini merupakan salah satu tanda yang harus diperhatikan. Pada umumnya, jika seseorang baru saja mengalami tragedi di dalam hidup mereka, maka peristiwa tersebut akan selalu terbayang di benak mereka dan jika hal ini terus menerus terjadi maka sebaiknya dapat menceritakan masalah ini kepada orang yang dipercaya. Pertanda lainnya yakni, apabila selalu merasa kesal, mudah emosi dan mood yang seringkali berubah, padahal tidak ada kejadian serius yang mengganggu kita, adalah satu tanda dari survival guilt yang perlu diperhatikan. Adanya pertanda lainnya yaitu, tidak adanya motivasi dalam hidup juga perlu diperhatikan, karena hal ini dapat memiliki kecenderungan untuk diteruskan kepada pikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri dan tidak sedikit dari orang yang mengalami survival guilt melakukan hal ini.

Hal ini didasarkan oleh perasaan sulit saat melewati trauma survival guilt,  adalah orang-orang yang mengalami trauma. Maka seringkali orang-orang ini menyalahkan diri mereka atas kejadian yang terjadi. Untuk membantu orang-orang yang mengalami trauma ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Hal yang pertama dan paling penting dilakukan untuk membantu seseorang mengalami trauma ini adalah, dengan memulai bicara dan diskusi dengan orang yang berkualifikasi  pada bidang terkait seperti Psikolog  terpercaya. Terdapat salah satu terapi yang cukup sukses untuk membantu orang yang mengalami trauma, yakni terapi cognitive behavioral therapy.

Pada umumnya, seorang terapis atau psikolog akan mencari tahu terlebih dahulu sebelum menganalisis adanya pikiran-pikiran negatif yang membuat seseorang menjadi depresi. Tidak hanya itu, terapis juga membantu mereka yang mengalami trauma untuk menyingkirkan pikiran yang tidak masuk akal dan di luar kontrol seseorang. Salah satu contoh yakni, seperti pikiran kalau mereka seharusnya dapat mengingatkan supir untuk berhati-hati ketika berkendara, mungkin saja kecelakaan tidak akan terjadi lagi. Namun, seiring berjalanya waktu, terapi ini diharapkan dapat membantu seseorang menghadapi pikiran-pikiran negatif mereka. Selain meminta bantuan kepada para ahli dalam bidang ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan secara mandiri untuk membantu menghadapi trauma survival guilt. Salah satunya, meluangkan waktu untuk bersedih adalah langkah awal yang penting untuk dilakukan. Tak hanya itu, namun dapat juga mengerjakan suatu aktivitas yang memberikan energi positif, juga dapat membantu seseorang menghadapi  trauma survival guilt.

Seperti contoh, aktivitas kerja bakti, belajar & terlibat dalam aktivitas sosial adalah beberapa contoh aktivitas positif yang bisa dilakukan. Hal yang penting untuk diingat adalah, untuk mengahadapi trauma ini tentunya memerlukan waktu dan  tidak dapat dipaksakan. Jika seseorang megalami trauma ini, maka tidak perlu merasa malu, karena masalah ini saat ini sudah sangat umum, dan terjadi pada banyak orang. Tentunya, dengan adanya masalah ini, sama sekali tidak menunjukkan kalau seseorang itu lemah. Namun justru memerlukan bantuan dan dukungan untuk menghadapi trauma ini.

0 COMMENTS