Others

Setelah Mendapatkan Vaksin COVID, Apakah Yang Selanjutnya Harus Kita Kerjakan?

2021-06-24
Tidak bisa dipungkiri bahwa vaksin COVID sangat efektif dalam menekan kasus COVID terutama angka kematian yang disebabkan oleh komplikasi COVID.

Data menunjukkan negara seperti Amerika, Inggris (UK) & Israel yang agresif menjalankan program vaksin berhasil menekan kasus COVID dengan sangat signifikan terutama di Israel yang hampir tidak ada lagi kasus COVID di negaranya. FDA bahkan menyatakan orang yang telah divaksinasi sudah boleh tidak menggunakan masker lagi. Sementara ini di Indonesia program vaksin sudah mulai digalakkan serta semakin banyak orang yang mau divaksin.

Walau kasus COVID masih meningkat cukup signifikan tetapi data menunjukkan bahwa mereka yang sudah divaksin mengalami gejala yang tidak terlalu parah serta dapat mengurangi tingkat kematian. Setelah mendapatkan vaksin mungkin banyak orang yang bertanya, apa langkah berikutnya? Apakah orang yang sudah divaksin boleh melepas masker, berkumpul dengan sesama yang sudah divaksin, perlukah melakukan tes lagi & bolehkah melakukan vaksin tambahan memakai vaksin yang dianggap lebih efektif? Hal pertama yang perlu diingat dan juga disetuji sebagian besar orang adalah walaupun sudah divaksin protokol kesehatan masih harus dijaga, termasuk tidak terlalu sering berkumpul walaupun semua sudah divaksin.

Sementara untuk menjawab tes antibodi, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan antibodi. Antibodi pada dasarnya adalah satu protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh ketika kita terinfeksi atau sehabis divaksinasi. Tes antibodi SARS COV-2 adalah satu tes untuk mengetahui apakah seseorang pernah terinfeksi oleh COVID dengan cara mendeteksi protein yang diproduksi sistem imun tubuh setelah terinfeksi. Akhir-akhir ini banyak orang mengambil inisiatif melakukan tes antibodi untuk mencari tahu tingkat imunitas mereka, hanya saja menurut FDA ini bukan langkah yang tepat.

Hal yang penting untuk diingat adalah tes antibodi SARS COV-2 hanya menunjukkan apakah seseorang pernah terinfeksi COVID atau belum, bukannya menunjukkan infeksi saat ini. Level imunitas hasil tes tidak menunjukkan seberapa imun seseorang terhadap COVID. Jika hasil tes COVID menunjukkan tingkat antibodi kemungkinan besar seseorang tersebut pernah sakit COVID atau habis divaksin. Untuk tingkat antibodi rendah maka bukan berarti tingkat imun tehadap COVID rendah, melainkan menunjukkan mereka belum pernah terinfeksi COVID. Ditambah lagi bagi mereka yang sudah divaksin dan menunjukkan level antibodi rendah bukan berarti mereka tidak mempunyai pertahanan terhadap COVID, melainkan bagi sebagian orang protein yang diproduksi oleh imun tubuh mereka yang dipancing oleh vaksin berbeda dari yang bisa dideteksi oleh tes antibody ini.

Risiko terbesar dari menggunakan tes antibodi SARS COV-2 secara tidak bertanggung jawab justru menyebabkan orang untuk tidak berhati-hati dan tidak memperhatikan protokol kesehatan ketika mereka mendapatkan hasil antibodi yang tinggi. Mungkin malah mereka melakukan konsultasi dokter untuk divaksin melebihi dosis ketika hasil antibodi mereka rendah. Menurut Dr. Fauci, para ahli belum bisa menentukan dan mempunyai cukup data apakah seseorang memerlukan booster atau dosis ketiga. Menurut CEO Pfizer kemungkinan semua orang akan memerlukan booster tahunan seperti halnya vaksin flu, tetapi ia juga menekankan para ahli belum mengerti ketahanan vaksin COVID terhadap COVID.

Untuk sekarang ini pastikan bagi mereka yang belum di aksin sebaiknya secepatnya mendapatkan vaksinasi dan memakai merk vaksin apapun yang tersedia saat ini. Terakhir yang penting untuk diingat adalah utamakan vaksin bagi mereka yang belum menerima vaksin.

0 COMMENTS