Mom & Kids

Strategi untuk anak susah makan

2019-11-14
Setiap orangtua pasti akan merasa senang jika anaknya doyan makan dan tidak pilih-pilih makanan. Namun faktanya, tidak semua anak memiliki kondisi yang sama.

Banyak dari orangtua kebingungan mencari solusi bahkan berasumsi ini itu. Sebaiknya para orangtua menemukan terlebih dahulu alasan anak susah makan atau menolak untuk makan sebelum akhirnya mencari tahu strategi yang tepat dalam penanganannya. Terdapat 2 kondisi ketika anak susah makan. Pertama, anak yang benar-benar susah makan dan yang kedua yaitu anak yang suka memilih makanan tertentu untuk di konsumsi (picky eater).

Lalu apa perbedaannya? Perbedaan antara keduanya adalah anak yang susah makan hampir tidak mau mencoba atau mengonsumsi makanan apapun karena suatu alasan. Sedangkan anak yang picky eater hanya mau makanan yang mereka suka saja dan sangat jarang mau mencoba makanan yang baru. Sangat penting bagi orangtua mengetahui perbedaannya, karena solusi untuk masing-masing masalah sedikit berbeda. Metode yang diterapkan oleh para ahli untuk menghadapi masalah tersebut adalah metode food chaining atau rantai makanan. Untuk membantu anak yang susah makan biasanya seorang ahli akan menggunakan metode food chaining dengan mengarahkan anak tersebut ke Dokter anak untuk mengetahui apakah terdapat masalah fisik yang mencegah anak tidak mau makan. Jika anak tidak mempunyai halangan fisik maka seorang terapis akan menganalisa kebiasaan makan anak tersbebut.

Hal pertama yang biasa dilakukan seorang terapis adalah mewawancara orangtua dari anak tersebut. Sebagai contoh pertanyaanya adalah makanan atau minuman apa yang biasa dimakan, selanjutnya terapis akan membuat rencana untuk membantu anak tersebut agar tidak sulit makan. Biasanya terapis akan memulai memberikan makanan yang bentuknya atau rasanya mirip dengan makanan yang biasa anak konsumsi. Diharapkan setelah anak merasa nyaman dengan makanannya maka tertarik untuk mencoba. Strategi selanjutnya adalah dengan menambahkan variasi makanan yang mendekati makanan yang disukai oleh anak tersebut.

Lalu apakah perbedaan implementasi metode ini untuk anak yang memilih makanan? Sebetulnya cara menghadapi kedua masalah tersebut hampir mirip dengan metode food chaining, perbedaannya mungkin seorang terapis harus mengetahui alasan seorang anak memilih suatu makanan. Pertama kondisi anak yang tidak pernah mencicipi jenis makanan lain atau tidak memiliki kesempatan untuk mencobanya sehingga merasa asing dengan jenis makanan baru. Kedua, kondisi trauma atas kejadian dalam hidup mereka yang menjadi penyebab anak trauma mencoba makanan baru. Sebagai contoh, jika anak pernah mengalami tersedak tulang atau duri saat memakan ikan sehingga anak merasa takut jika harus memakan ikan lagi.

Bagaimana penanganannya? Seorang terapis harus menjelaskan kenapa hal yang traumatik tersebut bisa terjadi kepada mereka agar mereka tidak takut lagi untuk mencoba makanan baru. Untuk memulai seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, seorang terapis akan mewawancarai orangtua atau kerabat anak tersebut agar sejarah pengalaman makanan mereka bisa diketahui. Setelah proses wawancara dan analisa, seorang terapis akan memulai untuk memberikan anak yang picky eater, makanan yang tidak membuatnya trauma untuk mencoba. Setelah seorang anak sudah mulai terbiasa dengan makanan barunya maka seorang terapis secara perlahan akan memperluas pilihan makanan anak tersebut.

Apapun kondisi anak Anda, pastikan mengetahui dan mencari tahu terlebih dahulu penyebab dari kondisi anak Anda agar mendapatkan penanganan yang tepat ya!

0 COMMENTS