Others

Suka Duka Penderita Intoleransi Laktosa Zaman Now

2018-02-17
Aku Disa (27 tahun) suka banget minum susu dari jaman kecil tapi sekarang penderita “Lactose Intolerance” atau “Intoleransi Laktosa”.

Banyak banget yang nggak percaya kalau orang bisa kena “Lactose Intolerance” soalnya dari kecil pasti minum susu. Tapi aku baru terdeteksi “Intoleransi Laktosa” saat usia 23 tahun (aneh, kan?).

Banyak yang bilang kalau “Intoleransi Laktosa” sama seperti “Alergi Susu”. Mirip sih, tapi sebenernya beda. Gampangnya adalah kalau alergi susu itu total nggak bisa minum susu, karena tubuh nggak bisa mengenal protein susu sebagai protein, malah dianggap kandungan berbahaya. Nah, kalau “Intoleransi Laktosa” itu adalah tubuh nggak mampu mencerna karena tubuh nggak menghasilkan enzim laktase yang cukup. Padahal enzim laktase ini yang memecah laktosa menjadi dua bentuk gula yang lebih sederhana: glukosa dan galaktosa. Kemudian tubuh menyerap gula sederhana ini ke dalam aliran darah. Oh iya, laktosa itu ada di semua susu mamalia, termasuk ASI.

Balik lagi ngomongin aku yang baru kena “Intoleransi Laktosa” saat usia 23 tahun. Jadi awalnya aku muntah-muntah. Waktu pertama kali ke dokter aku kira sakit maag biasa. Aku dikasih obat-obatan untuk penyakit maag. Minggu depannya, aku ngalamin muntah-muntah lagi dan waktu ke dokter yang sama, aku dikasih obat maag lagi karena dikira aku belum sembuh total. Sampai akhirnya di minggu ke-3 aku ngalamin muntah-muntah. Nah, saat itu aku baru curiga kalau selama ini aku bukan maag.

Akhirnya dokter internis mengajukan buat ngecek alergi. Ternyata aku terindikasi alergi telor dan susu. Aku lumayan kaget dan nggak percaya saat itu, karena aku suka banget minum susu tapi kenapa tiba-tiba aku bisa alergi susu. Dokter aku nggak ngasih tau sih kenapa bisa begitu, mungkin di sini ada yang tau? Hehe.

Setelah aku dideteksi alergi susu, aku dites macem-macem. Dari mulai tes darah, urine, sampai feces untuk ngebuktiin kalau aku alergi total atau “Intoleransi Laktosa”. Setelah ketauan kalau ternyata aku “Intoleransi Laktosa”, dokter ngelakuin uji batas “Intoleransi Laktosa” untuk tubuh aku. Jadi aku minum susu dengan kadar laktosa yang beda-beda sambil dilakukan pengecekan urin per-dua jam. Dimulai dari 15 ml sampai berhenti di 150 ml. Karena itu menandakan hasil batas tubuh aku bisa toleransi dengan laktosa. Kebayang nggak 150 ml susu itu segimana? Bayangin aja air mineral gelas plastik itu 350 ml, jadi kurang lebih aku cuma bisa minum setengah gelasnya, hehe.

Apakabar kalau aku mau pesen kopi susu kekinian? Padahal penasaran banget!

Oh iya, “Intoleransi Laktosa” itu bukan cuma berlaku buat susu yang diminum ya, tapi segala macem olahan susu juga bisa bereaksi. Jadi mulai dari keju, es krim, roti, kue, kue kekinian dan lain-lain yang ada kandungan susunya.

Terus gimana dong?

Untungnya ada susu alternatif yang bisa aku konsumsi. Pokoknya aku bisa minum semua susu yang nggak mengandung laktosa seperti susu kedelai, susu almond atau susu cashew. Jadi sekarang kalau aku pesen kopi susu kekinian semacam Tuku atau Sana, aku minta pake susu almond. Tapi kalau lagi pengen minum kopi susu kedelai, cuma adanya di Starbucks, huhu.

Kalau perkara susu minum sih agak gampang ya, selain susu kacang-kacangan yang tadi aku bilang, Karena sekarang ada beberapa merek susu yang “free lactose” walaupun emang masih susah banget nyarinya. Aku sempet nitip temen aku yang liburan ke luar negeri, soalnya di sana nggak cuma susu putih, tapi banyak banget susu dengan pilihan rasa yang enak-enak dan free lactose! So happy! Karena bisa mengobati kangennya minum susu rasa-rasa yang sekarang nggak bisa aku minum sembarangan. Padahal tiap ke minimarket di sini rasanya pengen banget aku borong! Semoga susu free lactose yang rasa-rasa cepet deh masuk ke sini atau dibikin di sini.

Nah, kalau ngomongin makanan, aku sampai sekarang masih kesusahan buat milihnya. Alhasil aku sangat menghindari semua makanan yang mengandung susu. Mungkin di sini ada yang tau aku harus gimana milih makanan yang bebas laktosa atau tau restoran yang ‘ramah’ sama penderita “Intoleransi Laktosa”?

0 COMMENTS